Monthly Archives: June 2015

Saktinya Membaca

Beberapa hari ini anak-anak sedang senang dibacakan buku berjudul Cerita 99 Asmaul Husna (Abdullah Zaedan). Nah, tadi malam, kebetulan si Kakak memilih nama Al- Malik. Ceritanya adalah pada hari Kiamat nanti, seluruh manusia akan dikumpulkan Mahsyar dan akan ditimbang segala amal kebajikannya selama di dunia untuk diputuskan akan ke Surga atau Neraka. Dan terjadilah percakapan ini dengan si Kakak.

Kakak: Nanti Ayah sama Ibu di mana waktu di padang Mahsyar ?

Ibu : Ya nanti ikut ditimbang juga, Kakak dan Adik juga, semua manusia kak.Makanya Kakak sekarang ikut ngumpulin poin (baca:pahala) ya, salah satunya jadi anak shaleh, biar Ayah dan Ibu juga bisa masuk surga sama Kakak. Insya Allah.

Kakak : oh gitu Ibu, kalau mau dapat poin banyak berarti sholat, puasa, ngaji ya bu ?

Ibu : Iya, juga sedekah ya kak, Jangan lupa doakan Ayah dan Ibu ya. Selalu ingetin sholat ya kak.

Setelah kami bersiap tidur, Kakak tiba-tiba mau menelpon Ayah yang masih bermain basket.

Kakak : Assalammualaikum Ayah, Ayah lagi dimana?

Ayah : Mau pulang nih kak, baru selesai main basketnya

Kakak : Ayah, udah sholat belum ?

Ayah : (terdiam sesaat) belum kak, nanti sampai rumah baru Sholat ya

Kakak : Jangan lupa ya Ayah, Assalammualaikum (langsung tutup telp)

Subhanallah

Dan sore ini pun Saya dikejutkan oleh bunyi kemericik air di Kamar mandi ketika Azan Ashar berkumandang. Ternyata si Kakak, yang di ekori si adik sedang mengambil wudhu untuk bersiap Sholat. Walaupun gerakan Sholat masih lari sana dan sini, tapi rasa terharu dan bangga terselip di hati. Subhanallah, ternyata betapa membaca sangat terserap dalam hati dan pikiran mereka yang masih sangat muda belia. Membuat Saya pun kadang malu, walaupun sudah dijejeli berbagai buku dan informasi, masih saja badan ini malas bergerak akan kebajikan dan panggilan ALLAH SWT. Yuk kita contoh si kecil, tauladan dari kita akan sangat teringat di otak mereka, dan Insya Allah apabila kebaikan seperti membaca buku, Insya Allah, kebaikan tentang ilmu yang bermanfaat pun yang akan mereka cari kelak mereka tumbuh dewasa nanti. Seperti tertulis di surat Al- Alaq : Bacalah dengan (menyebut)nama Tuhanmu yang menciptakan.Jadi sepertinya kita suka tidak menyadari bahwa ilmu memang harus dicari dengan membaca, we’ll maybe we know, but sometimes,we just don’t want to know .

Tagged ,

Missing Child

Beberapa hari ini kita dikejutkan oleh berita mengenai Angeline. Gadis kecil asal Bali yang diberitakan hilang sebulan yang lalu oleh keluarga angkatnya, lalu ditemukan jenazahnya di belakang rumahnya sendiri, kemarin (10 Juni 2015). Bulu kuduk Saya bergidik melihat berita itu, Kakak tak henti-hentinya bertanya apa yang ada dalam kantung besar berwarna kuning (kantung jenazah). Proses penyelidikan masih berlanjut, dan kita hanya bisa mendoakan agar arwah Angeline tenang di sana, begitupun pembunuhnya bisa cepat ditemukan dan di hukum sesuai dengan perbuatannya.

Pelajaran besar yang Saya dapatkan adalah,

Pelajaran Pertama, betapa kita harus sadar lingkungan sekitar kita, terutama tetangga terdekat. Betapapun tertutupnya Mereka, kita tetap harus pasang mata dan telinga. Entah itu silsilah keluarga yang tinggal, atau sekedar menyapa. Entah apa yang terjadi dengan Angeline, tapi Saya membaca beberapa berita bahwa guru Sekolahnya sangat khawatir dengan sikap Angeline yang sangat pendiam, dan fisiknya yang semakin memprihatinkan. Apabila kita menemukan hal serupa sekitar kita pun, mungkin kita harus sedikit “menengok” tanpa bermaksud ikut campur. Bukankah sebagai Muslim kita sudah diingatkan bahwa tetangga adalah keluarga terdekat. Dalam hadits

خَيْرُ اْلأَصْحَابِ عِنْدَ اللهِ خَيْرُهُمْ لِصَاحِبِهِ ، وَخَيْرُ الْـجِيْرَانِ عِنْدَ اللهِ خَيْرُهُمْ لِـجَارِهِ

Sahabat yang paling baik di sisi Allah adalah yang paling baik sikapnya terhadap sahabatnya. Tetangga yang paling baik di sisi Allah adalah yang paling baik sikapnya terhadap tetangganya” (HR. At Tirmidzi 1944, Abu Daud 9/156, dinilai shahih oleh Al Albani dalam Silsilah Ash Shahihah 103)

Diambil dari sini

Pelajaran kedua adalah mengajarkan anak kita tentang rasa waspada apabila terjadi sesuatu tidak semestinya, terutama dalam lingkungan terdekat, ketika orang tua/keluarga inti tidak ada di sekitar. Jadi ketika ada yang mencurigakan, mereka bisa langsung bergegas teriak, atau menolak atau lari menjauh mencari bantuan dari orang sekitar.Yang Saya sudah coba lakukan dalam hal ini adalah selalu mengingatkan anak-anak, bahwa tidak boleh tubuh di sentuh oleh sembarang orang, dan ketika ada yang mengajak pergi dari rumah atau sekolah dengan iming-iming permen atau makanan, Mereka harus menolak atau menjauh, karena berisiko mereka bisa tidak bisa bertemu Saya atau Ayahnya lagi. Nah, PR lainnya lagi, apabila orang itu adalah orang yang mereka kenal, Saya pun sempat kecolongan .sebagai contoh kemarin adalah ART Kami mengajak anak-anak jalan-jalan kemarin sore. ART ini tinggal tidak jauh dari komplek Kami, bahkan hanya di sebrang komplek.Mungkin dia melihat anak-anak bosan keliling komplek dan tidak bertemu satupun temannya, jadilah dia mengajak anak-anak bermain sebentar ke rumahnya. Sampai di rumah, dan ART pulang, Kakak langsung bercerita dia diajak ke rumahnya mba, dan ada siapa saja di rumahnya mba, dan apa yang dia lakukan di rumahnya mba. Saya terkejut sekali, tapi berusaha tetap tenang. Saya hanya bicara pelan kepada Kakak, bahwa Kakak tidak boleh sembarangan keluar dari komplek kami. Selidik punya selidik,ternyata keesokan harinya, setelah Saya tegur ART saya, dia juga sudah diinformasikan oleh Satpam komplek, bahwa tidak boleh membawa anak-anak sembarangan keluar komplek, apalagi sampai di bawa menyebrang.

Pelajaran ketiga dan paling sulit menurut Saya adalah melatih anak berkomunikasi dan suka bercerita mengenai diri dan kesehariannya. Bagaimana caranya ?

Mendengarkan ketika Mereka ingin bercerita, apapun cerita itu

Memberikan umpan balik ketika mereka bercerita, ini pun kadang sulit pasti. Karena kadang Mereka bercerita pada saat kita sedang sibuk berkonsentrasi membereskan rumah atau bekerja di rumah. Jadi paling tidak sediakan waktu khusus 30-60 menit khusus untuk mereka. Tentunya tanpa gadget, dan tanpa orang ketiga, biar khusuk dan intim, hehehe.

Tidak menghakimi dan tidak panik, ketika Mereka bercerita mengenai sesuatu yang “mengejutkan”. Susah, pastiih. Kadang Saya juga suka spontan mendelik atau sekedar berkata “hah” . Tapi memang sebagai orang tua, kita harus berlatih sabar dan tenang, bagaimanapun situasinya. PR ya, hihi. Akan Saya bahas nanti mengenai ini.

Semoga sedikit tulisan ini bisa membantu dan mengingatkan ya tentang perlunya menanamkan peduli lingkungan terhadap anak-anak ya.

Tagged