Missing Child

Beberapa hari ini kita dikejutkan oleh berita mengenai Angeline. Gadis kecil asal Bali yang diberitakan hilang sebulan yang lalu oleh keluarga angkatnya, lalu ditemukan jenazahnya di belakang rumahnya sendiri, kemarin (10 Juni 2015). Bulu kuduk Saya bergidik melihat berita itu, Kakak tak henti-hentinya bertanya apa yang ada dalam kantung besar berwarna kuning (kantung jenazah). Proses penyelidikan masih berlanjut, dan kita hanya bisa mendoakan agar arwah Angeline tenang di sana, begitupun pembunuhnya bisa cepat ditemukan dan di hukum sesuai dengan perbuatannya.

Pelajaran besar yang Saya dapatkan adalah,

Pelajaran Pertama, betapa kita harus sadar lingkungan sekitar kita, terutama tetangga terdekat. Betapapun tertutupnya Mereka, kita tetap harus pasang mata dan telinga. Entah itu silsilah keluarga yang tinggal, atau sekedar menyapa. Entah apa yang terjadi dengan Angeline, tapi Saya membaca beberapa berita bahwa guru Sekolahnya sangat khawatir dengan sikap Angeline yang sangat pendiam, dan fisiknya yang semakin memprihatinkan. Apabila kita menemukan hal serupa sekitar kita pun, mungkin kita harus sedikit “menengok” tanpa bermaksud ikut campur. Bukankah sebagai Muslim kita sudah diingatkan bahwa tetangga adalah keluarga terdekat. Dalam hadits

خَيْرُ اْلأَصْحَابِ عِنْدَ اللهِ خَيْرُهُمْ لِصَاحِبِهِ ، وَخَيْرُ الْـجِيْرَانِ عِنْدَ اللهِ خَيْرُهُمْ لِـجَارِهِ

Sahabat yang paling baik di sisi Allah adalah yang paling baik sikapnya terhadap sahabatnya. Tetangga yang paling baik di sisi Allah adalah yang paling baik sikapnya terhadap tetangganya” (HR. At Tirmidzi 1944, Abu Daud 9/156, dinilai shahih oleh Al Albani dalam Silsilah Ash Shahihah 103)

Diambil dari sini

Pelajaran kedua adalah mengajarkan anak kita tentang rasa waspada apabila terjadi sesuatu tidak semestinya, terutama dalam lingkungan terdekat, ketika orang tua/keluarga inti tidak ada di sekitar. Jadi ketika ada yang mencurigakan, mereka bisa langsung bergegas teriak, atau menolak atau lari menjauh mencari bantuan dari orang sekitar.Yang Saya sudah coba lakukan dalam hal ini adalah selalu mengingatkan anak-anak, bahwa tidak boleh tubuh di sentuh oleh sembarang orang, dan ketika ada yang mengajak pergi dari rumah atau sekolah dengan iming-iming permen atau makanan, Mereka harus menolak atau menjauh, karena berisiko mereka bisa tidak bisa bertemu Saya atau Ayahnya lagi. Nah, PR lainnya lagi, apabila orang itu adalah orang yang mereka kenal, Saya pun sempat kecolongan .sebagai contoh kemarin adalah ART Kami mengajak anak-anak jalan-jalan kemarin sore. ART ini tinggal tidak jauh dari komplek Kami, bahkan hanya di sebrang komplek.Mungkin dia melihat anak-anak bosan keliling komplek dan tidak bertemu satupun temannya, jadilah dia mengajak anak-anak bermain sebentar ke rumahnya. Sampai di rumah, dan ART pulang, Kakak langsung bercerita dia diajak ke rumahnya mba, dan ada siapa saja di rumahnya mba, dan apa yang dia lakukan di rumahnya mba. Saya terkejut sekali, tapi berusaha tetap tenang. Saya hanya bicara pelan kepada Kakak, bahwa Kakak tidak boleh sembarangan keluar dari komplek kami. Selidik punya selidik,ternyata keesokan harinya, setelah Saya tegur ART saya, dia juga sudah diinformasikan oleh Satpam komplek, bahwa tidak boleh membawa anak-anak sembarangan keluar komplek, apalagi sampai di bawa menyebrang.

Pelajaran ketiga dan paling sulit menurut Saya adalah melatih anak berkomunikasi dan suka bercerita mengenai diri dan kesehariannya. Bagaimana caranya ?

Mendengarkan ketika Mereka ingin bercerita, apapun cerita itu

Memberikan umpan balik ketika mereka bercerita, ini pun kadang sulit pasti. Karena kadang Mereka bercerita pada saat kita sedang sibuk berkonsentrasi membereskan rumah atau bekerja di rumah. Jadi paling tidak sediakan waktu khusus 30-60 menit khusus untuk mereka. Tentunya tanpa gadget, dan tanpa orang ketiga, biar khusuk dan intim, hehehe.

Tidak menghakimi dan tidak panik, ketika Mereka bercerita mengenai sesuatu yang “mengejutkan”. Susah, pastiih. Kadang Saya juga suka spontan mendelik atau sekedar berkata “hah” . Tapi memang sebagai orang tua, kita harus berlatih sabar dan tenang, bagaimanapun situasinya. PR ya, hihi. Akan Saya bahas nanti mengenai ini.

Semoga sedikit tulisan ini bisa membantu dan mengingatkan ya tentang perlunya menanamkan peduli lingkungan terhadap anak-anak ya.

Advertisements
Tagged

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: