Raising Barra

27 Maret 2012

Mas Barra..

Nak, sudah setahun usia mu genap hari ini ..

Tak terasa, sudah setaun juga Ibu menuliskan proses kelahiranmu di halaman sebelumnya.. baru sebentar nak, baru setahun yang lalu.. perjalanan yang sebentar itu diisi oleh berbagai cerita berwarna, mengharu biru, dan tak terasa.. mengapa ibu terdengar melankolis sekali sih menuliskan semua ini bu ?

Entah bagaimana, semua terasa berbeda sejak kehadiranmu di dunia ini, menjadi seorang Ibu yang 24 jam berada disisimu, mengawasi, menyayangi, merawat dengan kedua tangan ini. Kadang melelahkan, namun lebih sering menyenangkan. Kadang merindu berada aktif di luar sana seperti sebelum kamu ada di perut Ibu, namun ada rasa yang begitu aneh ketika meninggalkanmu di tangan asing.

Nak, Terima kasih .. Terima kasih untuk ada bersama Ibu dan Ayah..

Baru setahun. Berharap akan ada lagi waktu panjang yang diberikan Allah untuk kita bersama, berbagi, belajar, bersyukur, dan berdoa.

Doa Ibu terdengar klise, tapi pasti diucapkan di setiap hati terdalam semua Ibu di jagad raya ini ..Sehat.. doa yang tidak kalah pentingnya untuk Ibu adalah Barra  menjadi anak Shaleh, cerdas dan kuat ..

Bismillah ya nak, untuk semua yang akan dimulai ini

 

 

Peluk, cium sayang

Ibu

SEDIKIT CERITA DARI TANGGAL 27 Maret 2011 

Ini cerita mengenai proses kelahiran Barra..
Sejak minggu ke35 kehamilan gue, sudah setiap minggu wajib kontrol ke dokter . Kebetulan dokternya praktek di hari Sabtu, jadi suami bisa ikut menemani.
Sabtu tanggal 26 Maret itu salah satunya. Karena perkiraan lahiran masih seminggu lagi (sekitar tanggal 5 April) dan katanya anak pertama itu suka lebih lama dari perkiraan, jadi kami santai aja. Nah kebetulan kakak gue ulang tahun di tanggal 25 Maretnya, jadi memang kita rencana nginep di rumah ortu pulang dari kontrol. Kebetulan Sabtu itu Dokternya ada operasi di RS lain, jadi jadwal prakteknya mundur, akhirnya kami jalan-jalan ke salah satu toko peralatan bayi di Pd.Indah. Lagi seru-serunya window shopping, tiba-tiba kok gue ngerasa mengeluarkan daah di bagian bawah, ternyata udah flek lumayan banyak. Meluncurlah kami ke RS. Tapi setelah di cek kontraksinya masih jarang sekali (bahkan gue ga ngerasain), jadi dokter membolehkan gue pulang.
Di rumah Ortu pun gue masih seru cerita, ha ha hihi makan malam. Tapi begitu mau tidur (sekitar jam 10 malam) kok ada rasa aneh dari perut ya, mengencang sakit , dan mulai membatin, apa ini ya namanya kontraksi ? Berjalan ke jam 11 gerakan itu makin sering dan waktunya makin teratur. Mata udah ngantuk berat tapi ga bisa tidur juga, akhirnya coba bangunin Nyokap.Karena gue ngantuk, Nyokap bilang untuk dibawa istirahat aja dulu dan ke RS nya menjelang Shubuh, dan Nyokap yang gantian nemenin biar Suami bisa istirahat.
Antara jam 3-4 kontraksi makin sering dan makin syakit, gue mendesak Nyokap untuk ke RS, tapi Nyokap bilang sabar dan suruh sambil dzikir untuk nahan sakitnya (hmm, yang ini agak susah untuk dipraktekan hehe).Pas Adzan Shubuh, gue sudah mulai meracau (A.K.A teriak), tapi Nyokap masih insist untuk sholat Shubuh dulu di rumah baru ke RS, daann pas semua lagi siap-siap dan Nyokap lagi sholat, byuurr air ketuban pun pecahh.. rrrrrrr, rasanya luaarr biasa.. seperti sakit mau pup tapi ga boleh ngeden, makin meracaulah gue manggil nama semua yang ada di rumah buat cepet ke RS. Alhamdulillah jarak rumah ortu – RS cumah 10 menit kurang kalau pagi hari. Dengan keadaan di bopong untuk masuk mobil, dan suster yang sigap di emergency, masuklah ke ruang bersalin. Tapi sayangnya karena dari malam gue ga update ke dokter ginekolognya, jadilah dia punya acara sendiri pagi itu :(, dan dokter yang terdekat yang dipanggil untuk menggantikan.
Proses melahirkannya sedikit lama, karena gue ga kuat ngeden jadi kepala bayi terlalu lama di panggul, akhirnya diputuskan untuk pakai proses vacuum.. 10 menit kemudian lahirlah si kecil tanpa proses menangis, dan proses IMD dipercepat karena bayi membiru. Alhamdulillah setelah diberi oksigen tambahan suara nangisnya membahana 🙂 ..
One thing for sure, rasa melahirkan yang luar biasa itu sangat terbayarkan melihat si kecil sehat ada di dada dan dipelukan 🙂

PROSES MENYUSUI BARRA

Alhamdulillah proses persalinan sudah berhasil, walaupun IMD tidak bisa dilakukan terlalu lama (yang penting skin to skin contactnya), Barra dibawa ke baby room untuk dibersihkan dan dipakaikan baju.. Kurang lebih 2 jam setelah persalinan, datanglah Dokter Anak membawa Barra untuk dilatih menyusui. Karena Saya masih capek berat, Dokter membantu pelatihan menyusui dengan posisi tidur. daan Hup Barra pintar sekali menyusu dan Alhamdulillah air susu sudah keluar cukup deras.

Sedikit mundur, sewaktu hamil karena Saya sudah off dari hamil 4 bulan, Saya jadi punya waktu untuk mencari informasi sebanyak-banyaknya mengenai ASI, dari ikut senam hamil (bumill, ikutan yaa, pentiing) ,teman se- peer grup, social media spt Twitter, milis, dll deh.. Jadi ketika Barra lahir Saya ga stres ASI ga keluar atau mikir aneh2, pokoknya nyusuin aja, Alhamdulillah lagi it sooo help ya (salah satu faktor pendukung lancar asi : keep positive).

Back to Barra 1st day..

Dokter anak yang ahli laktasi ini cukup amat vokal, jadi di RS tempat saya menginap suster-suster kebidanan pun sudah terlatih untuk membawa bayi setiap mereka menangis ke Ibunya ( walaupun ada baby room, tapi hampir semua waktu Barra bersama Saya untuk menyusu dan pelekatan). Kebetulan, Saya dapat kamar bukan untuk kebidanan, karena kebetulan kebidanan kamarnya penuh semua, jadi beda suster dong ya.. Mereka smpt kaget waktu tau Barra saya ajak tidur satu kasur sama Saya.. komentar nya lucu2.. Saya ga berani ‘bu takut ketindihan, the most popular comment :p

Tapi, karena dari hari pertama Saya sudah selalu sama Barra, dan hanya dibawa suster untuk dibersihkan saja, waktu di rumah saya pun tidak mengalami shock banget banget 😀 dan kata bu Dokter, bayikuh paling terlihat warna kulitnya dibanding Bayi lain, alias tidak kuning ah senangnya..

waktu seminggu sudah di rumah, pas cek, ternyata Barra agak kuning, dan puting Saya lecet. walaupun  berbekal banyak pengetauan, tetep aja dull waktu pada prakteknya. Pelekatannya ternyata salah.. Ibu Dokter pun hanya melakukan 2 hal:

– Membetulkan pelekatan (benar-benar dipraktekan sampai benar, dan Suamipun diajak turut serta melihat dan belajar

– Memberikan resep skin to skin contact dan berjemur tiap pagi (paling tidak selama 7-10 hari intens) .

Alhamdulillah masa itupun terlewati, menyusui jadi begitu menyenangkan tanpa puting lecet dan Barra juga ga kuning lagi 🙂

Tapii yang pasti akan dirasakan oleh semua busui adalah.. back pain yang lumayan menganggu di 3-4 bulan pertama.. resep saya adalah mengganjal punggung dengan guling, manggil enyak si tukang pijet kerumah dan counterpain :D..

Saya ga akan bilang bahwa proses menyusui itu mudah.. noppp

Tapi dengan sikap optimis, pengetahuan yang cukup dan dukungan dari orang-orang terdekat (terutama suami) SANGAT PENTING..

Waktu Barra umur 4 bulanan pun Saya memanggil konselor dari AIMI , dan Ibu-Ibu Saya pun didudukan bersama untuk tahu mengenai ASI, mitos vs fakta, bagaimana cara menyusui tanpa puting (nah yang ini pada gagal emak2 guweeh- next time tak ceritakan) .. Ini aja masih ada yang belum kesaring atau msh suka pada khaawatir susunya kurang lah, makanan yg gimana lah.. Hadapi dengan senyuman dan kasih kode2 bahwa itu ga benar atau kasih buku tentang ASI deh 🙂 it works juga, tapi ya namanya juga sudah agak sepuh, kadang Eyang2 suka pada lupa hehehe…

-persembahan untuk semua Ibu menyusu, Happy breastfeeding mommies-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: